Kalender Hijriah

Ternyata Ini Rasanya Menjadi Anak Pertama

Post a Comment
       بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
Assalamu’alaikum temen2….
Kali ini saya ingin sharing bagaimana rasanya menjadi Anak Pertama. Lebih tepatnya anak pertama yang mempunyai adik 7.
Tentunya menjadi anak pertama mempunyai enak dan sangat  enaknya?. Kenapa? Karena setelah melewati fase itu, semuanya mempunyai dampak positif dalam diri saya, berikut beberapa catatan saya yang bisa diambil hikmah untuk semua kakak

1. Lebih peka dengan kondisi orang tua terutama ekonomi

    Saat SMP saya sekolah jauh di kota dan kos. Ketika mau berangkat, meminta uang saku ke ibu ternyata tidak punya. Saya pun diminta untuk mengantar ke rumah seseorang di lain desa, padahal saat itu mempunyai adik bayi dan ditinggal. Yang membuatku sedih ternyata ibu mencari hutangan, karena ayah merantau di Lampung, Sumatera. 
    Dan tidak hanya itu, saat di SMA sering sekali telat membayar SPP, bukan karena saya menyelewengkan uang dari orang tua, tapi karena uangnya hanya cukup untuk bekal sekolah dan ngaji di pesantren. Sampai-sampai saya diberi pembebasan biaya SPP dengan kategori miskin.
    Sedangkan di pesantren, kebanyakan teman-teman makan di tempat makan yang sudah disediakan pesantren maupun rumah warga yang tentunya mempunyai biaya bulanan ataupun harian, sedangkan saya masak sendiri di belakang gedung pesantren. Bahkan yang paling saya ingat, stok beras yang mau dimasak dikencingin tikus akhirnya semua dicuci.
    Sampai saat lulus SMA pun saya tidak tega jika tetap mendaftar di kampus negri karena biayanya yang melangit (saya bukan siswa pintar yang bisa menembus SBMPTN). Sehingga rela masuk ke kampus swasta yang biayanya ringan.
Maka dari itu, dengan kondisi ekonomi seperti itu, saya tidak mungkin memaksa orang tua mewujudkan apapun yang kuinginkan. Sehingga untuk mewujudkan apa yang diinginkan, harus………..

2. Mempunyai jiwa kemandirian 

    Sejak kelas 1 SMP dan ngekos, sejak saat itu pula dimulai kemandirian. Dari segi makan, pakaian, pengelolaan uang dan sebagainya. Saat itu tahun 2006, setiap pekan dikasih uang saku +- Rp 20.000 untuk satu pekan dan masih sempat menabung. Merasakan betapa pentingnya rupiah demi rupiah.
    Saya sekolah di SMP favorit, yang isinya anak orang-orang kaya. Saat mereka ngobrolin tipe HP Nokia “3315” otak saya tidak sampai. “maksudnya apa 3315? Harganya? Kok murah sekali”. 
    Saya pun juga ingin memiliki hp dan tak mungkin meminta orang tua untuk membelikan. Beberapa tahun kemudian alhamdulillah bisa membeli HP SIEMENS yang layarnya kuning, dari hasil menabung. 
    Sejak saat itu lah hampir setiap membeli hp adalah hasil menabung sendiri bahkan mencari uang sendiri. SMA membeli Nokia 7610, Saat kuliah membeli Android Advan t1j+, Blackberry 8520. Pernah sekali dibeliin hp oleh ayah Sony Ericson hanya sekali itu saja.
Selain itu, saya juga mempunyai impian lulus kuliah. Dengan adik banyak, saya tidak mungkin tega membebankan biaya kepada orang tua. Sehingga mulai dari semester 1 saya bertekad untuk mandiri mulai dari jualan es dawet, jualan pisau, peci, cireng, gantungan kunci bahkan menjadi tukang cuci piring di warung.

3. Menjadi pribadi tangguh

    Subhanallah, menjalani kemandirian memang Malu, Takut, Minder dan sebagainya. Tapi justru itu cara Alloh yang membuat mempunyai pribadi tangguh. Saat orang lain santai nongkrong, kita berfikir bagaimana agar bisa makan dan membayar kuliah, sehingga tanpa gengsi menjalani apapun yang menghasilkan.
    Karena pertolongan Alloh itu lah saya tetap tangguh meskipun ditolak berkali-kali lamaran nikahnya, dan melewati fase kehidupan hingga akhirnya mendapatkan hadiah yang Alloh janjikan (cerita lengkapnya)

4. Menjadi pendidik bagi adik-adik

    Saat pulang dari pesantren dan sekolah di SMP, saya mempunyai inisiatif mengumpulkan adik-adik, saat itu kalau tidak salah ada 4 (Nur, Ghufron, Ambar dan Nisa). Mereka saya ajarin cara yang benar dalam membaca Surat Al Fatihah. Sekarang baru sadar, di situ lah mulai muncul jiwa mendidik adik-adik. Biarpun ilmu belum seberapa, tapi ada rasa ingin berbagi terutama kepada adik sendiri.

5. Adik-adik sebagai laboratorium ilmu pendidikan

    Apalagi saat kuliah S1 Pendidikan. Semakin membuka wawasan mendidik apalagi ilmu psikologi. Dari situ lah saya belajar banyak dari bangku kuliah, dan mengamati bahkan melakukan eksperimen pendidikan atau psikologi kepada adik-adik. Sehingga kepada adik-adik tidak hanya membagikan ilmu atau transfer of knowledge tapi juga membangun kedekatan psikologis yang tidak hanya karena ikatan darah, tapi juga karena ikatan ilmu dan iman.
    Sehingga alhamdulillah semua adik-adik mempunyai kedekatan dengan saya, bahkan adik pernah bilang “saya lebih seneng dengan kakak daripada ayah” (bukan berarti merendahkan ayah, tapi dari sisi psikologis adik, mereka butuh sosok yang tidak hanya memberikan perintah dan larangan, tapi juga sebagai teman)

6. Menjadi tempat curahan hati

    Karena adik-adik sudah nyaman, maka mereka tidak hanya menuruti apa kemauan kakaknya, tapi lebih dari itu akan mencurahkan apapun isi hatinya. Entah masalahnya di sekolah, masalah cinta bahkan masalah dengan orang tua.
Sehingga di sini fungsi kakak tidak hanya sebatas guru yang mentransfer ilmu, tapi menjadi sahabat berbagi rasa. 
    Itu lah yang saya rasakan. Menjadi tempat curhat adik A, B, C dan seterusnya. Sampai sekarang pun biarpun adik-adik sudah besar masih tetap nyaman curhat denganku.
Yang tentunya harus mendengarkan dan memberi masukan. Cuma yang jadi pertanyaan emang saya sebagai kakak ga punya masalah?lalu kepada siapa bercerita? Wah …ini beda topik.

6. Siap mengalah untuk adik

    Dari hal kecil, saat ada makanan atau barang yang sedikit akan tumbuh naluri kakak untuk mengalah demi adiknya. Itu lah yang saya rasakan, saat lebaran adik-adik minta dibelikan baju lebaran, saya sama sekali tidak minta karena tau kondisi ekonomi keluarga. Sehingga saya mengalah memakai baju pembelian lebaran sebelumnya.
    Contohnya lagi, ayah sudah punya motor tapi butut. Tapi adik bersikeras meminta beliin motor yang baru sampai mengurung di kamar. Saya sebagai kakak pun sudah menasehati berkali-kali, tapi yang namanya adik, tetap bersikeras. Akhirnya dengan berbagai cara, ayah membelikannya. Sebenarnya di lain sisi saya agak kecewa, selama ini saya yang memakai motor butut dan gantian tapi tidak dibelikan, justru malah adik. Ah lagi dan lagi harus mengalah, tidak perlu protes cukup simpan dalam hati.

7. Terhilang dari sifat manja

    Mau manja gimana? Sedangkan punya adik banyak apalagi ada yang masih bayi. Justru ketika ayah sedang merantau berbulan-bulan, disitulah peran kakak. Yang saya rasakan saat itu masih SMP, membantu ibu mengurus sawah, dari memberi pupuk, menyemprot padi, mengatur pengairan sampai panen dan membawa padi ke rumah sampai menata rapih. 
    Saat musim kemarau tiba, kampung kami langka air, sehingga harus mengangsu demi bisa masak. Disitu lah saya harus menggantikan peran ayah. Dan pernah saat itu musim kemarau, dan ibu baru saja melahirkan entah anak ke berapa. Saya membawa sekarung pakaian kotor termasuk pakaian-pakaian bayi untuk di cuci di sungai beda kecamatan.

8. Menjadi penengah dalam suatu konflik

    Tidak ada hidup tanpa masalah. Entah masalah adik dengan adik, adik dengan orang tua, bahkan ayah dengan ibu. Di situ lah peran kakak dalam menengahi setiap masalah internal keluarga agar masalah tidak berlarut-larut bahkan dibawa sampai tua.

9. Mempunyai wawasan futuristik untuk adik-adik

    Tidak ada seorang kakak menginginkan adiknya tidak mempunyai masa depan. Bahkan banyak sekali kakak yang rela menunda nikah, merantau jauh demi adiknya. Begitu pun saya, dulu saat masih di SMA pun sudah memikirkan adiknya harus sekolah di sini, jangan di sini.
    Apalagi sekarang, sudah harus memetakan adik ini kuliah di sini, pesantren di sini. Dan tidak hanya itu, memberikan motivasi dan mengarahkan adik-adik proses demi proses dalam mewujudkan masa depannya. Ini yang harus dikerjakan, jika tidak bisa maka jalur lainnya ini dan ini ini yang jangan sampai dilakukan, jika dilakukan resikonya ini.
    Kakak berbicara jauh ke masa depan adik. Minimal pengalaman hidup kakak sendiri yang menjadi bahan nasihat. Semua itu dilakukan dengan tujuan agar mereka berhasil bahkan lebih berhasil dari kakanya entah di dunia maupun akhirat.

Nasihat cinta untuk para kakak

  1. Terus didiklah adik kita dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka
  2. Jangan lupa selalu mendokan keselamatan mereka di dunia dan akhirat
  3. Niatkan dalam mendidik dan mengurus adik sebagai bentuk bakti kita kepada orang tua kita, sehingga insha Alloh mempunyai pahal dobel
  4. Teruslah menjadi inspirasi bagi adik-adik, sehingga mereka mempunyai sosok panutan terdekat
  5. Biarpu telah berkeluarga, jangan lupakan adik. Tetap ilmu, kasih sayang dan finansial kita bagikan semampunya.
Jangan lupa untuk mengisi  << klik

Nasihat cinta untuk para adik

  1. Terimakasihlah kepada kakakmu yang telah tulus mengajarimu. Karena salah satu nikmat yang tidak saya dapatkan adalah adanya kakak yang menjadi penyemangat
  2. Belajarlah dari pengalaman mereka, karena pengalaman adalah guru terbaik dan pengalaman orang lain lebih baik
  3. Doakan selalu kakakmu, karena mereka mempunyai beban yang berat. Jika kakakmu sudah berkeluarga, mereka harus menanggung keluarganya dan keluarga ayah ibunya dan juga kamu
  4. Jadilah adik yang bisa dibanggakan, hadiah terbaik untuk kakakmu yaitu cukup kamu menjadi orang baik, jika kamu berprestasi itu lebih baik. Tapi jika belum bisa, cukuplah menjadi adik yang mempunyai pribadi baik.
Demikian beberapa catatan saya menjadi anak pertama, ternyata apapun yang Alloh ciptakan dalam diri maupun kondisi kita adalah yang TERBAIK. hanya saja kita sering egois, padahal Alloh sudah memberikan rambu-rambu atau clue
 وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 
Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Al Baqarah: 216.
semoga Alloh menjaga dan memberikan keberkahan kepada kita,ayah ibu, adik-adik, pasangan, anak keturunan kita dan semua muslimin muslimat.
Banyumas, 9 Januari 2022
Ngubaidillah

Related Posts

Post a Comment